nasi box karisma by sofistika
nasi box karisma by sofistika

Nasi Kotak Premium Karisma menu SPESIAL
(Ayam Goreng Lengkuas, Pepes Tahu Teri, Jamur Cabe Garam, Tumis Jagung Muda, Sambal Bajak)
+ GRATIS Buah

Nasi Tumpeng Mulai Rp 750 Ribu per Nampan

Konsultasikan Kebutuhan Catering Anda Sekarang!


WA catering


Roti Buaya – Jika anda pernah melihat atau mengenal tradisi pernikahan dalam budaya betawi, maka tidak bisa dilepaskan dari pernak pernik berikut ini: palang pintu, ondel ondel dan juga roti buaya. Pernak Pernik tersebut merupakan tradisi betawi yang mengandung filosofi khusus sama halnya dengan adat istiadat di berbagai daerah di Indonesia.

Ketiga pernak Pernik ini wajib ada, dan bahkan dilestarikan hingga sekarang. Tentunya disertai dengan ornament ornament pengiring seperti adanya tanjidor sebagia music khas betawi yang merupakan music campuran antara budaya Indonesia dengan budaya Portugis.

Tanjidor sendiri merupakan musik yang menjadi pengiring dan menggunakan alat alat musik campuran khas Indonesia dan juga portugis, misalnya anda akan menemukan alat musik saksofon dalam grup musik tanjdor pengiring ini. Kenapa ada sakssofon? tentu saja karena pengaruh budaya portugis dalam masyarakat betawi.

Mengapa ketiga pernak Pernik ini harus ada? Biasanya karena memiliki sakralitas dalam budaya tersebut. Misalnya saja untuk palang pintu, mungkin bagi orang luar Jakarta terdengar menjadi istilah yang aneh. Palang pintu sendiri adalah semacam ritual atau prosesi pengantaran pengantin laki laki ke tempat pengantin perempuan.

Prosesi palang pintu ini sangat menarik karena biasanya terjadi semacam aksi berbalas pantun (sebuah ciri khas suku betawi yang sampai kini masih dilestarikan), aksi berbalas pantun ini biasanya dilakukan oleh ayah atau perwakilan pengantin laki laki kepada ayah atau perwakilan pengantin perempuan.

Tentu saja aksi berbalas pantun ini mempunyai filosofi bahwa usaha mengantar pengantin laki laki sebagai bagian untuk bersilaturahim denagn keluarga mempelai perempuan. Aksi berbalas pantun ini biasanya akan diakhiri dengan aksi silat alias bertarung antara petarung perwakilan laki laki dengan petarung perwakilan perempuan.

Kedua aksi simbolik ini melambangkan bahwa menjemput pengantin perempuan haruslah melalui proses silaturahim yang baik, serta sebagai pihak laki laki harus memberikan usaha yang maksimal dalam mendapatkan pengantin perempuan. Kedua aksi simbolik ini sampai saat ini masih dilestarikan menjadi bagian dari adat dan tradisi pernikahan Betawi.

Selain aksi simbolik, palang pintu, adu debat pantun. Ada satu hal lagi yang biasanya sangat familiar dalam adat pernikahan betawi yaitu adanya roti buaya. Selain itu juga ada ondel-ondel, Jika ondel ondel adalah ornamen raksasa yang mengiringi jamuan kedatangan pengantin, maka roti buaya sendiri memiliki tempat yang sakral dalam prosesi pernikahan tersebut.

Ondel-ondel sendiri mungkin familiar bagi masyarakat Indonesia karena selain sering dimasukkan ke dalam nyanyian, juga sering sekali masuk ke dalam televisi dan budaya pop nasional. Ondel ondel sendiri adalah boneka besar yang dibuat dari kerangka kayu atau gabungan boneka dengan kerangka kayu dan digerakkan dengan tenaga manusia.

Fungsi ondel-ondel ini adalah pengiring alias ornamen pendamping yang melambangkan keceriaan, atau prosesi keceriaan dan biasanya dibuat dalam dua bentuk seperti mempelai laki laki dan mempelai perempuan yang merepresentasikan kedua pihak yang menikah.

Filosofi Roti Buaya

roti buaya

Roti buaya dalam adat istiadat pernikahan betawi wajib di bawa oleh rombongan pengantin laki laki ketika datang ke tempat rombongan pengantin perempuan. Roti ini memang berbentuk buaya, berukuran lumayan besar seukuran anak balita dan dibungkus dalam wadah tersendiri diselimuti plastik.

Beberapa membuat roti buaya dengan tekstur yang keras, sementara yang lainnya membuat tesktur roti buaya seperti biasanya dengan tambahan isian yang bisa disesuaikan. Lalu apa fungsinya roti buaya dalam proses pernikahan adat betawi ini?

Jika berpikir buaya banyak yang berkonotasi negatif, mungkin karena budaya populer mengenai steorotip laki laki budaya yaitu laki laki yang tukang selingkuh. Akan tetapi dalam filosofi betawi, roti buaya bukanlah steorotip tersebut. Melainkan diambil dari filosofi hidup buaya yang ternyata hanya menikah sekali seumur hidupnya.

Tentu saja filosofi ini mengandung maksud agar pernikahan yang dijalani dalam proses penyerahan roti buaya tersebut bisa menjadikan pengantin laki laki dan pengantin perempuan bisa langgeng seumur hidup hingga mati. Sementara yang lain berpendapat bahwa roti buaya melambangkan kejantanan, maskulinitas dan proses mempertahankan rumah tangga dengan tangguh.

Roti buaya yang telah diserahkan pihak pengantin laki laki kemudian akan diberikan (dalam bagian seserahan) kepada pihak pengantin perempuan. Biasanya roti buaya akan disimpan di rumah dan dibiarkan sampai lapuk sebagai penanda bahwa hubungan keluarga mereka haruslah sampai kekal.

Sejarah Roti Buaya dalam Adat Istiadat Betawi

Kenapa harus menggunakan contoh buaya, apakah tidak bisa diganti dengan contoh hewan lain? Tentu saja ini mempunyai kaitan erat dengan sejarah orang orang betawi di jakarta sebagai suku asli yang mendiami ibukota bahkan semenjak belanda belum menjajah nusantara.

Ketika awal awal memulai membuka permukiman di Jakarta (atau jayakarta pada masa itu), orang orang betawi dihadapkan pada kondisi geografis jakarta yang penuh rawa dan buaya. Mereka kemudian menata rawa rawa tersebut untuk dijadikan pemukiman, menjinakkan buaya dan beberapa kemudian menangkarkan buaya.

Dari proses sejarah inilah kemudian masyarakat betawi terinspirasi oleh kegigihan hidup budaya dan siklus hidup buaya yang ternyata hanya menikah sekali dalam seumur hidupnya. Tentu saja makna filosofi ini sangat dalam ketika diaplikasikan dalam pembuatan roti buaya.

Roti buaya sengaja dibuat agar para pengantin di dalam lingkungan masyarakat betawi mempertahankan pernikahan mereka, menghindari perceraian, menghindari perselingkuhan dan tetap tangguh dalam mengarungi hidup bersama pasangan. Jadi adanya roti buaya dalam prosesi adat pernikahan betawi ternyata memiliki proses sakralitas yang tinggi dan tidak ada kaitannya dengan steorotip modern yang berkaitan dengan laki laki buaya. Karena pada dasarnya sendiri ternyata siklus hidup buaya hanya kawin dengan satu betina dan mereka biasanya gigih dalam mempertahankan wilayah kekuasaan mereka ketika ada predator datang.

Cara Pembuatan Roti Buaya

Penasaran cara membuat roti buaya? Roti buaya sendiri dalam proses pernikahan betawi banyak dibuat dengan dua model dan dua cara pembuatan. Pembuatan roti buaya ini tergantung dengan minat dan keinginan pembeli dan keluarga mempelai tentunya. Berikut uraian perbedaan dua model dan dua cara pembuatan:

1. Model roti buaya yang sering dibuat adalah model seukuran balita dewasa yang biasanya akan dibawa paling depan dalam sebuah rombongan mempelai pengantin laki laki.

2. Sementara model roti buaya kedua adalah ukuran kecil seperti ukuran boneka. Model ini bisa dipilih bagi mereka yang menghemat biaya atau sedang melaksanakan pernikahan sederhana.

3. Cara pembuatan roti buaya sendiri terdapat dua cara. Cara pertama adalah membuat roti tanpa isi, kemudian roti dibuat sekeras mungkin dan (sepertinya akan susah untuk dimakan). fungsi dibuat sekeras mungkin ini agar roti buaya awet ketika dibawa kemana-mana, serta awet ketika disimpan di rumah mempelai perempuan.

4. Sementara cara pembuatan yang kedua adalah membuat roti buaya dengan kekerasan yang wajar dan diberikan isian atau rasa. Hal ini bertujuan agar roti buaya bisa dimakan dan tidak disimpan terlalu lama.

roti buaya enak

Apakah Roti Buaya bisa dimakan?

Banyak yang beranggapan bahwa roti buaya dalam proses pernikahan adat betawi hanyalah aksesoris semata yang selesai acara akan langsung dibuang. Kenyataanya tidaklah seperti itu, karena roti buaya memegang peranan penting dan sangat sakral dalam proses penikahan, maka pembuatan roti buaya biasanya dibuat agar lebih awet.

Proses pembuatan roti buaya sendiri ada banyak cara seperti roti dikeraskan sampai sekeras mungkin sehingga susah untuk dimakan. Proses pembuatan roti buaya dikeraskan ini bertujuan agar penyimpanan roti buaya di rumah dapat bertahan lama dan bertahan berbulan bulan sehingga menjadi pengingat bagi kedua mempelai untuk memahami filosofi buaya.

Nah, karena roti buaya yang dibuat keras dan bertujuan untuk dipajang mempunyai tujuan khusus. Tetapi ada juga roti buaya yang dibuat dengan tekstur keras yang sewajarnya dan diberikan isian atau rasa sehingga bisa dimakan oleh tamu undangan. Kenapa ada perbedaan?

Jadi namanya bukan perbedaan tetapi pergeseran, dahulu pakem yang dikembangkan adalah roti buaya perlu disimpan selama mungkin sehingga para produsen roti buaya kemudian berlomba lomba membuat roti buaya sekeras mungkin.

Nah, karena kemudian timbul pemikiran karena ternyata roti buaya yang disimpan dan kemudian menunggu sampai lapuk baru akan dibuang. Kemudian muncul ide ide agar roti buaya juga bisa dimakan, jadi bukan hanya disimpan di dalam rumah sampai membusuk.

Roti buaya yang dikhususkan untuk dimakan biasanya dibuat dengan tekstur yang lebih lembut, beberapa diberikan aneka rasa, isian dan bahan makanan pendamping. Menu roti buaya ini bisa disajikan ketika hajatan berlangsung dan disajikan di ruang tamu.